Kamis, 14 Juli 2016

Perkenalan

Assalamualaikum, saya Retno Sulisetyowati lahir di Brebes Tanggal 3 Maret 2016. Saya anak kedua dari dua bersaudara. Saya kuliah di Universitas PGRI Semarang jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca postingan saya. Saya mohon maaf apabila ada kata-kata dalam postingan saya yang tidak berkenan di hati teman-teman. Semoga apa yang saya postingan dapat bermanfaat bagi kita semua.

Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah

Belum telatkan ya mengucapkan Taqobbalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah. Mohon maaf atas semua kesalahan yang pernah saya lakukan baik disengaja maupun tidak disengaja. Semoga kita menjadi orang yang lebih baik lagi dan dapat bertemu lagi dengan Bulan Ramadan tahun depan. Baarakallahu fiyk.

Mongonversi Naskah Drama Menjadi Sebuah Puisi

          Beberapa bulan yang lalu saya mendapat tugas dari dosen Mata Kuliah Puisi untuk mengonversi sebuah naskah drama dari sebuah pementasan teater "Ronggeng Dukuh Keramat" yang dipetanskan di kampus saya (Universitas PGRI Semarang) oleh para pemain Teater Gema (UKM di UPGRIS). Saya membuat 5 puisi dari cerita teater tersebut. Berikut ke-5 judul puisi tersebut: Ronggeng, Merantau, Nasib, Terbuai, dan Penguasa. Sebelum saya mengonversi, saya harus menonton pementasan teater terlebih dahulu supaya dapat mengetahui bagaimana alur ceritanya, membuat catatan-catatan kecil atau merekan suaranya, membuat judul puisi, memilih diksi yang tepat, dan terakhir merangkai kata-kata sehingga menjadi sebuah puisi yang bagus dari cerita tersebut.
          Ketika saya membuat puisi pertama yang berjudul "Ronggeng" saya mengingat kembali bagian cerita teater yang mengisahkan gadis-gadis Dukuh Keramat yang cantik jelita menjual harga dirinya kepada orang kaya demi sebuah uang. Setelah itu saya merangkai kata-kata yang dapat menggambarkan keadaan gadis-gadis tersebut, dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Bagaimana orang kaya tersebut menggodanya sampai mereka tidak berdaya lagi dan pada akhirnya mereka menjual kehormatannya sendiri.
          Puisi kedua berjudul "Merantau". Puisi tersebut mengisahkan bagaimana laki-laki di Dukuh Keramat harus meninggalkan desanya untuk mengubah nasibnya. Di kota yang katanya menjanjikan ternyata kenyataannya mereka terlunta-lunta sehingga mereka pun kembali ke desanya dengan perasaan kecewa.
          Puisi berjudul "Nasib" adalah puisi ketiga saya. Puisi ini mengisahkan cerita nasib para penduduk Dukuh Keramat yang begitu memperihatinkan. Orang miskin yang semakin miskin, orang kaya yang semakin kaya akhirnya menguasai desa dan mereka yang miskin pun tidak berdaya lagi.
          Terakhir puisi ke-4 dan ke-5 yang berjudul "Terbuai" dan "Penguasa". Penduduk Dukuh Keramat yang miskin khususnya gadis-gadis cantik yang tidak sanggup hidup miskin akhirnya terbuai oleh rayuan orang kaya yang memperdayanya hingga mereka menjual kehormatannya. Penduduk miskin yang tidak berdaya akhirnya dikuasai oleh mereka yang mempunyai uang. Kemiskinan yang semakin merajalela tidak terhindarkan.
          Dari 5 puisi yang saya buat semuanya terinspirasi oleh sebuah cerita dari pementasan Teater Gema "Ronggeng Dukuh Keramat". Kita semua tahu bahwa mengonversi naskah drama menjadi sebuah puisi bukanlah hal yang mudah, apa lagi bagi saya sendiri yang belum mahir dalam membuat puisi yang bagus. Akan tetapi, kita jangan berputus asa dan harus terus belajar supaya dapat menghasilkan/menciptakan sebuah karya sastra (puisi) yang bagus dan indah. Terima kasih.

Apresiasi Puisi Dalam Film "Ada Apa Dengan Cinta?" part 1

         Ketika saya menonton film "Ada Apa Dengan Cinta?" bagian 1 yang ditayangkan di televisi, saya dibuat terkesima melihat bagaimana Cinta (Dian Satrowardoyo) membaca Puisi karya Rangga (Nikola Saputra) begitu Indah. Tidak seperti pembacaan puisi pada umumnya yang mendayu-dayu. Akan tetapi, Cinta dapat membacakannya dengan baik, dengan memperhatikan intonasi, artikulasi, ekspresi wajah, dan lain sebagianya tanpa harus mendayu-dayu. Sungguh saya baru mengetahui bagaimana pembacaan puisi yang baik dan benar setelah saya kuliah di Universitas PGRI Semarang. Bukan apa yang saya dapat (ilmu membaca puisi) dari SMP-SMA tidak baik hanya saja mungkin belum tepat. Sehingga saya harus belajar lagi bagaimana membaca puisi dengan baik dan benar. Sekian apresiasi puisi yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apabila ada kata-kata saya yang tersinggung. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.