Beberapa bulan yang lalu saya mendapat tugas dari dosen Mata Kuliah Puisi untuk mengonversi sebuah naskah drama dari sebuah pementasan teater "Ronggeng Dukuh Keramat" yang dipetanskan di kampus saya (Universitas PGRI Semarang) oleh para pemain Teater Gema (UKM di UPGRIS). Saya membuat 5 puisi dari cerita teater tersebut. Berikut ke-5 judul puisi tersebut: Ronggeng, Merantau, Nasib, Terbuai, dan Penguasa. Sebelum saya mengonversi, saya harus menonton pementasan teater terlebih dahulu supaya dapat mengetahui bagaimana alur ceritanya, membuat catatan-catatan kecil atau merekan suaranya, membuat judul puisi, memilih diksi yang tepat, dan terakhir merangkai kata-kata sehingga menjadi sebuah puisi yang bagus dari cerita tersebut.
Ketika saya membuat puisi pertama yang berjudul "Ronggeng" saya mengingat kembali bagian cerita teater yang mengisahkan gadis-gadis Dukuh Keramat yang cantik jelita menjual harga dirinya kepada orang kaya demi sebuah uang. Setelah itu saya merangkai kata-kata yang dapat menggambarkan keadaan gadis-gadis tersebut, dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Bagaimana orang kaya tersebut menggodanya sampai mereka tidak berdaya lagi dan pada akhirnya mereka menjual kehormatannya sendiri.
Puisi kedua berjudul "Merantau". Puisi tersebut mengisahkan bagaimana laki-laki di Dukuh Keramat harus meninggalkan desanya untuk mengubah nasibnya. Di kota yang katanya menjanjikan ternyata kenyataannya mereka terlunta-lunta sehingga mereka pun kembali ke desanya dengan perasaan kecewa.
Puisi berjudul "Nasib" adalah puisi ketiga saya. Puisi ini mengisahkan cerita nasib para penduduk Dukuh Keramat yang begitu memperihatinkan. Orang miskin yang semakin miskin, orang kaya yang semakin kaya akhirnya menguasai desa dan mereka yang miskin pun tidak berdaya lagi.
Terakhir puisi ke-4 dan ke-5 yang berjudul "Terbuai" dan "Penguasa". Penduduk Dukuh Keramat yang miskin khususnya gadis-gadis cantik yang tidak sanggup hidup miskin akhirnya terbuai oleh rayuan orang kaya yang memperdayanya hingga mereka menjual kehormatannya. Penduduk miskin yang tidak berdaya akhirnya dikuasai oleh mereka yang mempunyai uang. Kemiskinan yang semakin merajalela tidak terhindarkan.
Dari 5 puisi yang saya buat semuanya terinspirasi oleh sebuah cerita dari pementasan Teater Gema "Ronggeng Dukuh Keramat". Kita semua tahu bahwa mengonversi naskah drama menjadi sebuah puisi bukanlah hal yang mudah, apa lagi bagi saya sendiri yang belum mahir dalam membuat puisi yang bagus. Akan tetapi, kita jangan berputus asa dan harus terus belajar supaya dapat menghasilkan/menciptakan sebuah karya sastra (puisi) yang bagus dan indah. Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar